Sejarah

Bawang Merah Brebes Merah Menyala dan Rasa Lebih Pedas

Brebes tak cuma dikenal sebagai kota telur asin yang legendaris. Kota kecil di pesisir utara Provinsi Jawa Tengah ini juga dikenal sebagai sentra brambang atau bawang merah yang kualitasnya nyaris tak tertandingi di seantero Indonesia.

Tak heran jika bawang merah dari Brebes ini menguasai pasar di Jawa Tengah menembus pasar bawang nasional, bahkan dicari pedagang di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta. Begitu terkenalnya brambang Brebes, sampai-sampai bawang merah impor pun harus ”transit” ke Brebes sebelum beredar di Pasar Induk Kramatjati.

Bagi masyarakat Kabupaten Brebes bawang merah merupakan bagian yang tidak bisa dipisah dari mereka,
hampir di setiap sudut wilayah di temukan tanaman bawang merah seperti terlihat di pelosok Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Dari data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Brebes sentra bawang merah terbesar pada 11 Kecamatan dari 17 Kecamatan diwialayah Kabupaten Brebes meliputi Kecamatan Brebes,Wanasari, Bulakamba, Tonjong, Losari, Kersana, Ketanggungan,Larangan, Songgom, Jatibarang dan sebagian Banjarharjo.

Luas panen Bawang Merah pertahun sekitar 20.000 hingga 30.000 hektare dengan rata-rata kepemilikan lahan setiap petani sekitar 0,25 hektare terdapat sekitar 100.000 petani yang menggantungkan hidupnya dari bawang merah, ratusan ribu buruh tani lainya para pedagang, kuli panggul, sopir angkutan hingga buruh petik yang menggantungkan hidupnya dari bawang merah.

Rata-rata untuk proses pengolahan tanah hingga panen pada lahan seluas satu hektare di butuhkan sekitar 400 hingga 500 satuan kerja, selama ini sektor pertanian merupakan sektor yang dominan di Kabupaten Brebes. Sekitar 2jt penduduk Kabupaten Brebes 70 persenya diantaranya bekerja pada sektor pertanian bahkan sektor pertanian menopang sekitar 53 persen Produk Domestik Regional Brutto Kabupaten Brebes.

Dengan rata-rata kepemilikan lahan sekitar 0,25 hektare penghasilan dari bawang merah bisa untuk menghidupi keluarga budidaya bawah merah diperkirakan mulai berkembang di Brebes sejak tahun 1950 dan di perkenalkan oleh warga keturunan warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Brebes hingga saat ini budidaya bawang merah menjadi nafas kehidupan masyarakat.

Berbagai Varietas bawang unggulan juga dihasilkan dari Brebes antara lain varietas Bima Brebes, varietas Bawang Bima Brebes memiliki warna merah menyala terasa lebih pedas dan lebih keras bila dibandingkan bawang dari luar daerah atau luar negeri.

Produksi Bawang Merah Brebes tidak hanya dinikmati masyarakat setempat saat ini sekitar 30 persen lebih
pasokan bawang merah nasional berasal dari brebes sementara untuk wilayah Jawa Tengah Brebes memasok sekitar 75 persen lebih kebutuhan bawang merah.

Pada 2010, produksi bawang merah Kabupaten Brebes mencapai 400.501 ton, atau 79,09 persen dari total
produksi bawang merah di seluruh wilayah Jawa Tengah yang jumlahnya 506.357 ton. Terhadap produksi bawang nasional yang jumlahnya 1.048.934 ton, Brebes menyumbangkan 38,18 persen dari total produksi.(dari berbagai sumber)


bawang-merah

Varietas Bima Brebes 
(Lampiran SK. Menteri Pertanian No. 594/Kpts/TP 290/8/1984)  

Varietas ini berasal dari daerah lokal Brebes. Umur tanaman 60 hari setelah tanam. Tanaman berbunga pada umur 50 hari. Tinggi  tanaman 25-44 cm. Tanaman agak  sukar berbunga. Banyaknya anakan 7-12 umbi per rumpun. Bentuk daun berbentuk silinder berlubang. Warna daun hijau, jumlah daun berkisar 14-50 helai. Bentuk bunga seperti payung. Warna bunga berwarna putih. Banyak buah per tangkai 60-100 (83). Banyaknya bunga per tangkai 120-160 (143). Banyaknya tangkai bunga per rumpun 2-4. Bentuk biji bulat, gepeng dan berkeriput. Warna biji hitam. Bentuk umbi lonjong bercincin kecil pada leher cakram. Warna umbi merah muda. Produksi umbi 9,9 ton/ha. Susut bobot umbi (basah-kering) 21,5%.
                                                                                                                                 
Cukup tahan terhadap penyakit busuk umbi (Botrytis alli). Peka terhadap penyakit busuk  ujung daun (Phytophthora porri). Baik untuk dataran rendah. Para penelitinya adalah Hendro Sunarjono, Prasodjo, Darliah dan Nasrun Harizon Arbain.

No comments:

Post a Comment

Photobucket
Post a Comment